-->
Assalamu'alaikum,, Selamat Datang di Blog aq, silahkan berikan komentarmu dan kunjungi Facebook ku, thankz :) salam hangat (Ardiansyah Putra Nst)

Bagaimana Penilaian Mu Tentang Isi Blog Ini...

                cukup...
                cukup bagus...
                bagus...
                sangat bagus... ^o^

Rabu, 27 Agustus 2008

I cried for my brother six times *



Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"

-----------------------------------------
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.
Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,

"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,

"Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,

"Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,

"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11 tahun. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut,

"Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, lalu berkata,

"Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,

"Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.

"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua
sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,

"Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan,

"Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya,

"Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia menjawab dan tersenyum,

"Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,

"Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,

"Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23 tahun.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum,

"Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan mebalut lukanya.

"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."

Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan,

"Kak, jagalah mertuamu aja disana. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,

"Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.

"Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:

"Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku! seharusnya..."

lalu, adik ku langsung memotong perkataan ku,

"Mengapa membicarakan masa lalu? aku bahagia dg hidup ku yg seperti ini kak, segala yg aku dapat selama ini termasuk perhatian, kasih sayang, ibu, ayah jg kakak...bagi ku sudah lebih dari cukup?"

Adikku menggenggam tanganku dan tersenyum. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya,

"Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,

"Kakakku..."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat ku ingat.

"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,

"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Bangkit Dari Kesedihan

Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Penyebabnya macam-macam,
bisa karena sedang patah hati, sakit secara fisik,
bokek alias tidak punya uang, dan semacamnya.
Pada saat-saat seperti itu, bisa jadi orang mengalami frustrasi,
depresi, dan ekstremnya, mencoba bunuh diri.
Mudah-mudahan kamu tidak usah seperti itu.
Coba tip di bawah ini untuk menemukan kembali semangat diri.

1. Ayunkan tubuh dan bernyanyi
Pasang musik favorit, terutama yang berirama disko atau dance. Sambil bergoyang,
kamu juga bisa ikut menyanyi.

2. Tersenyum
Tersenyum bisa 'mengakali' otak. Maksudnya,
karena otot-otot kamu memaksakan senyum,
otak akan berpikir bahwa kamu sedang senang.

3. Habiskan waktu dengan orang-orang tercinta
Ada orang yang senang kongkow dengan teman-temannya,
ada juga yang senang bermain dengan anak-anak kecil.
Terserah yang mana pilihan kamu,
yang jelas pilihan kedua amat menyenangkan.
Bayangkan kamu mencubit pipi seorang bocah,
menyaksikan keriangannya menjilat es krim,
bermain di kolam renang, atau melakukan apa pun. Percayalah,
keriangan anak-anak akan menular pada kamu.

4. Hadiahi diri kamu sendiri
Kalau ada pekerjaan yang tidak kamu sukai, jangan ditunda. Segera kerjakan,
supaya setelah itu usai, kamu bisa memberi kado bagi diri kamu sendiri.
Hadiahnya tak usah mahal-mahal amat, bisa berupa memanjakan diri di spa atau salon,
berendam di kamar mandi, membaca majalah atau buku,
atau tak melakukan apa pun sambil mengunyah dua keping cokelat.

5. Bersihkan sekeliling kamu
Keadaan yang kacau balau memang bikin dada sesak. Karena itu,
bebenahlah. Biarkan segala sesuatu berada di tempat yang seharusnya.
Seni kuno Feng Shui menyebutkan bahwa mengenyahkan kekacaubalauan
di suatu tempat berarti akan mengusir energi negatif dari sana. Cobalah.

6. Lakukan tindakan
Bila ada sesuatu yang membuat kamu cemas, entah itu kesehatan,
pekerjaan, atau kehidupan rumah tangga, lakukan sesuatu.
Jangan biarkan suatu masalah menjadi berlarut-larut,
menggerogoti kebahagiaan kamu, dan 'menikam' apa yang seharusnya kamu peroleh.

7. Berpikir positif
Para konsultan psikologis tak akan pernah bosan menghadiahi kedua kata ini.
Sebab, ujung-ujungnya,
segala masalah bisa terasa lebih ringan kalau kamu selalu berusaha berpikir positif.

8. Jadi orang yang kreatif
Kalau cuma duduk melamun sambil mengeluh bahwa dunia ini tidak adil,
sudah jelas dunia ini memang 'terasa' tidak adil. kamu tidak punya kesibukan, sih.
Cari sesuatu yang menyibukkan diri, seperti mengerjakan pekerjaan tangan, memasak,
berkebun, meredekorasi rumah, dan sebagainya.

9. Menulis
Banyak ahli setuju bahwa menulis dapat menghilangkan stres.
Cobalah dengan menuangkan apa yang kamu alami ke dalam selembar kertas.
kamu akan kaget melihat hasilnya.

10. Berolahraga
Manfaat olahraga pasti sudah kamu ketahui. Tapi,
melakukannya ketika kamu sedang sedih,
bisa jadi membawa kegunaan lain. Di antaranya adalah,
membuat kamu lupa masalah, dan membawa semangat baru.

sedih...

kesedihan
kesenangan berdasar kesedihan
tak mungkin merasakannya jikalau
tiada perbedaan suka duka, maka
alangkah sedihnya jika tiada kesedihan didunia ini

kesedihan
merayap perlahan meyelubungi nurani
mencoba menggeliat tapi tetap sepi
kau atau aku penyebabnya

kesedihan
betapa menyedihkan orang orang yang selalu bersedih
kesal, geram, dan menjijikan terasa...
bodoh. kenapa mesti sedih.

kesedihan
terihat dari lunturnya lentera hati, redup.. redup... dan...
tambah minyaknya, besarkan sumbunya terangi dunia

Minggu, 08 Juni 2008

seandainya saja...

"untuk semua orang yg mengecewakanmu dan memenuhi hidupmu dg kepedihan, kamu harus berusaha untuk mencapai kebesaran hati, dan memperlihatkan kepada mereka kamu bisa menang. untuk setiap kekecewaan, untuk setiap saat kamu dikecewakan, akan ada saat lain yg lebih baik,dan kehidupanmu akan berputar...
karena semua orang merasakan sakit hati,dan semua orang merasakan kepedihan,tetapi cuma mereka yg memiliki keberanian sejati yg dapat bangkit dan berusaha lagi..."

saat ini hari ku terasa panjang dan meletihkan ketika tidak ada lagi seorangpun didekat ku.
harapan ku ini dipenuhi dg pertanyaan "apa kita bisa seperti dulu lagi?"kekuatanku sekarang diganti dengan rasa kehilangan. kepastian yang aku rasakan setiap kali aku bangun pagi tidak lagi ada, seakan impian dan harapan ku terkubur dalam tanah yang begitu dalam, ditemani rasa sakit yg begitu perih. aku merasa sakit setiap kali aku berjalan maju satu langkah setelah mundur walau hanya satu langkah, aku tahu kemunduran dan menyerah bukanlah pilihan bagi yang telah merasakan sepinya luka dan perpisahan. aku ingin semuanya berubah.
aku tahu bagaimana rasanya melihat dunia dan mimpi ku satu persatu jatuh menjadi jutaan keping dikaki ku sampai tidak ada lagi yg tersisa dalam diri ku. aku tahu rasanya disayangi jg menyayangi dan aku tahu rasanya menjadi keras dan dingin. aku tahu cara berbahagia, aku tahu cara tersenyum. aku tahu kadang aku harus menghadapi sikap childish jg keegoisan ku. aku tahu kadang semua niat dan usaha terbaik ku tidak cukup bagi orang lain. aku tahu kadang aku menjadi frustasi kepada diri ini karena sesuatu yg melawan kata hati ku, uuuhhhmmm mungkin aku orang aneh...orang aneh yg tidak ingin membohongi perasaannya sendiri dan hanya bisa terdiam, lidah ini terasa kelu sekalipun aku ingin sekali berkata "sekarang aku terluka...",anehkah aku? mungkin semua orang menganggap seperti itu, kenapa? apa dengan sikap ku yg aneh berarti ku jahat jg menyakiti, atau aku hanya menyakiti diri ku dg menahan semuanya dg "Diam"...
aku ingat di saat kamu menulis ini 17 maret lalu :

"dalam sunyi terpekur oleh ku satu pertanyaan...
pertanyaan yang mana sulit kali tuk terurai...
dalam gelap tak satu pun penerang yang mampu singkirkan gelap ini..
dalam kesunyian malam...
yang terdengar hanya dentingan mangkuk penjual skuteng.
yang mana semakin menyadarkan ku akan kesunyian yang selimuti diri....

kamu adalah kelembutan yang datang bersama hangatnya mentari
kamu adalah kesejukan yang datang dari teriknya mentari
kamu adalah anugrah alam yang di kirim malaikat tuk cerahkam bumi
kamu adalah pelangi yang hadir bersamaan dg turunnya hujan
kamu adalah kamu yang punya jalan pikiran mu sendiri...
kamu adalah kamu yang tak mampu ku cari celahnya tuk temukan arti..
kamu adalah kamu yang hadirnya selalu ku nantikan tuk temani diri....
kamu, yah kamu seseorang di sudut sana...
seseorang yang ku sayang dan ku harap juga menyayangi ku
apa adanya aku,
dengan segala kekurangan dan kelemahan ku...

kamu, pria lugu dg sejuta pesona..
pria lugu yang ku kira benar2 lugu...
namun selalu ku puja......

hanya dg diam mu..
kenapa begitu perih...
hanya dg diam mu...
air mata ini tak mampu ku bendung..
hanya dengan diam mu..
segala obat yg ku pakai tiada lagi mampu sembuhkan duka...
kenapa hanya dengan diam mu aku begitu rapuh...???"

aku tahu bagaimana rasanya mempunyai sesuatu yg begitu berarti. ini diri aku tetap diri aku bukan sebagai bayangan orang lain. aku tahu apa itu harapan dan aku mengandalkannya sebagai perlindungan terakhir ku.
tapi ingatlah, aku akan berhenti berharap di saat aku hanya melihat keadaan dipenuhi kesedihan, rasa sakit dan kekecewaan. mungkin menurut mu terdengar sedikit egois, tapi salahkah jika aku ingin meminta itu? aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin sekali saja aku merasakan sebuah senyuman, senyuman yg lepas tanpa beban. begitu juga aku ingin melihat mu tersenyum.
aku tahu bahwa kegelapan harus ada walau hanya untuk membuat sepercik sinar tampak semakin terang. aku percaya pada diri ini dan orang yg kusayangi di saat ku berbuat sesuatu. sekalipun kadang ku berpikir sebaliknya dan merasa tidak seorang pun yg percaya kepada ku. di atas segalanya, aku tahu bahwa semua ini telah membuat aku menjadi diri aku. dan aku merasa inilah hidup ku sekarang yg harus ku jalani dg sepenuh hati...

kadang aku tahu harus mengucapkan apa, berterima kasih atas semua yg kamu lakukan. bagaimana aku bisa cukup berterima kasih, saat itu ada orang yang bisa membuat hidup ku lengkap, karena kamu adalah seorang yg memberi ku ketenangan, seorang yg menyelimuti kesepian ku setiap malam, aku berharap kamulah orang yg bersedia berkorban, untuk selalu mendahulukan aku, yg membiarkan aku menguji segala kesabaran ku dan selalu sabar menghadapi sikap ku, meski childish, egois dan mungkin saja akan sedikit menyakitkanmu. adakah kata-kata yg tepat? bagi aku pertanyaan ini tidak mudah. apapun yg ingin aku katakan terasa tak pernah sudah. bagi kerelaan mu berubah bersama ku, menerima apa adanya diri ini, dan menerima segala kelemahan ku, tidak menyayangi karena terpaksa, tapi menyayangi "hanya karena"...

aku mungkin seorang yg tak bisa memberi apapun yg kadang merasa kesepian. bukan karena alasan waktu, intens maupun kepercayaan tapi berawal dari perasaan yg tumbuh namun selalu dibayangi hal yg dari awal rasanya begitu berat untuk diterima oleh hati kecil ini. aku tidak minta untuk dipahami karena aku sendiri bahkan tidak bisa memahami diri ku. aku ingin diterima apa adanya. aku sering mempertanyakan keberadaan diri ku, arti hidup ku. aku mempertanyakan apakah "dunia nyata" itu. dan mengapa aku tidak ada disana. aku merasa sangat kesepian. kadang hati ku menangis melihat semua keadaan ini, semua canda tawa saat itu selalu menggema dalam pikiran ku, di lain sisi aku harus diposisikan menjadi orang lain yg sebelumnya tidak pernah ku kenal. jujur, aku tidak sanggup menerimanya. tolong jangan mencoba memahami ku seperti itu, atau terlalu cepat menilai ku jelek di mata mu. yang jelas hati ku selalu terbuka untuk mu walau aku tahu aku harus merasakan perih..
pernah terpikir oleh ku untuk menghiburmu dg sebuah pelukan. tapi aku rasa kamu akan menolak. tapi aku tahu mengapa? apakah dg memelukmu dapat membuatku merasa lebih baik atau malah akan memperdalam rasa sakit yg sama2 perlu kita lupakan...

pernahkah kamu menjalani kehidupan ku?
menghabiskan satu menit dalam posisi ku?
jika belum pernah...
katakan mengapa kamu lakukan semua ini?
pernahkah kamu bangun di pagi hari?
bertanya-tanya apakah saat ini adalah hari2 mu yg terakhir?
pernahkah kamu merasakan diri mu menjadi bayangan seseorang?
dan kamu terpaksa menerimanya walau hati mu menangis..
pernahkah kamu mengalami bahwa masa lalu dapat merusak segalanya?
dan kamu akhirnya menyadari bahwa semuanya berawal dari kesalahan mu...
pernahkah kamu belajar untuk menjaga sikap?
dan kamu akhirnya tahu sikap yg salah akan merusak segalanya
pernahkah kamu belajar untuk menjaga perasaan?
dan akhirnya kamu harus melukainya
pernahkah kamu berpikir kepercayaan adalah segala2nya?
dan akhirnya kamu sadar bahwa menjaga perasaan jauh lebih penting
pernahkah kamu belajar dari semua kesalahan mu?
dan berpikir cepat untuk coba memperbaiki semua
pernahkah kamu mencoba untuk berubah?
dan kamu sadar perubahan itu jalan terbaik
pernahkah kamu mencoba flashback?
dan akhirnya kamu tahu bahwa hidup bukanlah untuk kegagalan
pernahkah kamu merasa kamu bukanlah satu2nya dihatinya?
dan berharap ada yg menyadari bahwa perasaan tidaklah dapat di bagi2
pernahkah kamu berharap dan menunggu seseorang?
dan kamu merasa tidak yakin apakah seseorang akan datang
pernahkah kamu membenci seseorang?
dan kamu tahu bahwa kamu terpaksa melakukannya
pernahkah kamu berbohong dan menyembunyikan sesuatu?
dan akhirnya menjadi boomerang bagi diri mu sendiri
pernahkah kamu menghadapi dua pilihan yg sangat berat?
dan memaksa mu untuk memilih...
pernahkah kamu berjalan satu langkah?
dan akhirnya menjadi perubahan terbesar dalam hidupmu
pernahkah kamu duduk dibawah bintang2?
dan berharap ada seseorang mendengar keluhmu
karena kamu membutuhkan bahunya untuk menenangkan diri sejenak
pernahkah kamu memiliki seseorang yg sangat kamu sayangi yg selalu membuatmu tenang didekatnya?
pernahkah kamu ingin melindungi teman2 mu dan semua orang dari pandangan mu?
pernahkah kamu menutupi rasa bersalah, dengan pergi menjauh darinya?
pernahkah kamu melakukan hal terbodoh dan nekat, dan akhirnya kamu sadar bahwa semua tidaklah ada gunanya?
pernahkah kamu berpikir bahwa diam adalah satu2nya jalan keluar?
pernahkah kamu berpikir untuk menyembunyikan diri, di balik semua kata2 mu?
pernahkah kamu menyakiti seseorang karena kekurangannya?
padahal dia telah memberikan segalanya yg ada didalam dirinya?
pernahkah kamu merasa kehilangan seseorang?
disaat kamu ingin mengucapkan maaf kepadanya atas semua yg kamu lakukan kepadanya?
pernahkah kamu merasakan sakit yg begitu pedihnya, sehingga kamu menangis hingga tertidur?
pernahkah kamu menjalani kehidupan ku?
menghabiskan satu menit dalam posisi ku?
jika belum pernah...
katakan pada ku mengapa kamu menghakimi ku seperti ini?

aku akhirnya tahu yg harus aku lakukan sekarang. aku ingin bisa mengatakan bahwa cerita ini berakhir bahagia, tapi dalam kenyataan hal ini jarang terjadi. "Apakah kamu membutuhkan orang lain?" uuuhhmmm, "aku tidak...". tetaplah menyayangi orang2 yg layak kamu sayangi dengan setulus hati dan aku akan baik2 saja...dan kalau di antara kita telah berhenti menyayangi, aku mohon jangan membenci ku. dan jikalau pada akhirnya aku harus menangis di depan mu, aku mohon jangan menertawakan ku. tolong ketahui bahwa aku jg bisa sensitif...secara laki-laki. bersikaplah jujur kepada ku tanpa menyakiti. aku hanya ingin bahagia di saat membuatmu bahagia, aku mohon jangan membuatku sedih dan terdiam lagi. seandainya kamu kembali tolong beritahu aku kalau ada perbuatan ku yang mengganggu atau jika ada sesuatu yg terasa tidak pas, aku ingin kamu selalu bersikap jujur kepada ku. jika aku mengalami hari2 yg tidak menyenangkan, aku berharap kamu akan menghujani ku dengan keyakinan dan senyum. aku berharap kamu tetap peduli dengan keadaan ku sekalipun sebagai pacar, teman maupun sahabat. mungkin menurutku lebih baik ikuti kata hati mu karna itu adalah jalan terbaik. aku berharap kamu tidak berpikir aku meminta terlalu banyak dari mu. aku berharap kamu mengerti. seandainya jika kamu dg segala kerelaanmu siap untuk kembali seperti dulu lagi, pintu hati ku masih terbuka untukmu dan jika keadaan memutuskan untuk berpisah, pahamilah bahwa aku pasti akan terluka dan sakit, karena aku belum terbiasa mendengar kata sakit dan terluka. tetap aku berharap masih bisa menjadi seseorang yg peduli dengan keadaan mu, itu kalau kamu mengizinkan dan menerima ku dg sepenuh hati tanpa berpikir negatif terhadap ku. aku berharap akan ingat bahwa kamu jg punya perasaan, meskipun kamu tidak peduli dan tidak pernah mengakuinya...sudahlah yg terpenting aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bersikap baik tanpa harus berharap terlalu banyak dari mu. hanya ini yg aku minta saat ini...

bukannya menuliskan semua luka juga rasa sakit yg aku alami, tapi aku malah membuat daftar saat2 menyenangkan yg telah aku jalani selama ini. tulisan ini menghabiskan satu lembaran penuh, dan dengan cepat menjadi, dua, tiga, dst sampai tangan ku capek menulisnya. masih ada sejuta lebih kenangan indah yg memenuhi sudut2 pikiran ku. dan sepanjang hari itu aku akan mengingat lebih banyak lagi. hal itu membuat aku menyadari semua yg aku pelajari dari mu, "kepercayaan hanyalah satu hal yg terpenting namun yg jauh lebih penting adalah menjaga perasaan, saat2 awal merupakan hal yg paling sensitif terhadap sebuah kepastian. kepastian yg memang pasti yg berisi hanya kata "yes or no", bukan kepastian diantara "yes or no". kata orang, masa lalu memang tetaplah masa lalu namun masa lalu dapat menjadi pil pahit/penyebab utama jika hal tersebut di bawa dalam kehidupan seseorang, seseorang tidak akan pernah mau menerima bayangan masa lalu apa lagi sebagai orang lain...".
aku mengakhiri tulisan ku dengan mengatakan bahwa aku tidak sakit hati, melainkan aku ingin kamu bisa menentukan sikap untuk mengambil sebuah loncatan yg kamu anggap terbaik (sebuah inisiatif), bukan melakukan hal2 bodoh dan nekat, yg hanya menyiksa diri sendiri. mungkin apa yg aku tulis didalam kenangan ini membuat aku terlihat lemah, mungkin kamu menganggap aku menyedihkan karena masih mempertahankan kenangan. tapi dengan menuliskan semua hal itu membantu ku menyembuhkan luka yg masih mengiris perih didalam hati. aku merasa bebas setelah melepaskan semuanya. aku berharap setelah ini semuanya akan baik2 saja, seperti dulu. sekarang aku merasa terbebas dari kemarahan ku, kekecewaan ku, kesedihan ku, karena segala hal yg hanya membohongi jg melawan kata hati ku. semuanya akan tetap aku ingat. aku berharap kamu bisa mengingat kenangan dulu dan akhirnya dapat mengatakan bahwa aku adalah dhe. orang yg menyayangi mu, yg terpenting bagi ku adalah aku ingin berterima kasih karena kamu telah mengajari ku tentang hidup, ketulusan dan memaafkan. dengan lenyapnya semua, hanya ada satu hal yg dapat aku ucapkan untuk mengobati hati ku selama ini, aku berharap kamu bisa lebih bahagia setelah ini, jangan kesal lagi, jangan sedih lagi dan semoga seseorang yg lebih baik bisa membuat mu lebih bahagia dari pada yg pernah aku lakukan dulu. jangan sedih lagi. biarlah hidup ini seperti air yg mengalir krn masa depan mu masih panjang.
semoga kamu bahagia, di hati ku kamu tetap malaikat ku sayang...

Senin, 02 Juni 2008

my photo gallery

click more photo :
http://www.friendster.com/photos/15299511





Hari ini, di sebuah jalan, aku melihat seorang remaja cantik dengan rambut panjang sedikit ikal.
Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan aku sangat ingin memiliki gairah hidup yang sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu.
Namun ketika dia lewat .... ia tersenyum.
Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya
dua kaki. Dunia ini milikku.
Aku berhenti untuk membeli sedikit kue. Anak laki-
laki penjualnya begitu mempesona. Aku berbicara
padanya. Dia tampak begitu gembira. Seandainya
aku terlambat sampai di kantor, tidaklah apa-apa.
Ketika aku pergi, dia berkata, 'Terima kasih.
Engkau sudah begitu baik.
Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu.
Lihatlah, aku buta.' Ya Allah, maafkan aku bila aku
mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.
Lalu, sementara berjalan. Aku melihat seorang
anak mirip bule dengan bola mata biru. Dia berdiri
dan melihat teman-temannya bermain sepak bola.
Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Aku
berhenti sejenak, lalu berkata, 'Mengapa engkau
tidak bermain dengan yang lain, Nak ?' Dia
memandang ke depan tanpa bersuara, lalu aku
tahu dia tidak bisa mendengar. Ya Allah, maafkan
aku bila aku mengeluh. Aku punya dua telinga.
Dunia ini milikku.
Dengan dua kaki untuk membawaku ke mana aku
mau. Dengan dua mata untuk memandang mentari
dan bukit-bukit. Dengan dua telinga untuk
mendengar desir angin dan segala bunyi.
Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.

mencari kebahagiaan...

Manusia bahagia bila ia bisa membuka mata untuk
menyadari bahwa ia memiliki banyak hal yang
berarti. Manusia bisa bahagia bila ia mau
membuka mata hati. Untuk menyadari, betapa ia
dicintai.Manusia bisa bahagia, bila ia mau
membuka diri. Agar orang lain bisa mencintainya
dengan tulus.
Manusia tidak bahagia karena tidak mau
membuka hati, berusaha
meraih yang tidak dapat diraih, memaksa untuk
mendapatkan segala yang diinginkan, tidak mau
menerima dan mensyukuri yang ada. Manusia
buta karena egois dan hanya memikirkan diri,
tidak sadar bahwa ia begitu dicintai, tidak sadar
bahwa saat ini, apa yang ada adalah baik, selalu
berusaha meraih lebih, dan tidak mau sadar
karena serakah.
Ada teman yang begitu mencintai, namun tidak
diindahkan, karena memilih, menilai dan
menghakimi sendiri. Memilih teman dan mencari-
cari, padahal di depan mata ada teman yang
sejati. Telah memiliki segala yang terbaik, namun
serakah, ingin dirinya yang paling diperhatikan,
paling disayang, selalu menjadi pusat perhatian,
selalu dinomorsatukan. Padahal, semua manusia
memiliki peranan, hebat dan nomor satu dalam
satu hal, belum tentu dalam hal lain, dicintai oleh
satu orang belum tentu oleh orang lain.
Kebahagiaan bersumber dari dalam diri kita
sendiri. Jikalau berharap dari orang lain, maka
bersiaplah untuk ditinggalkan, bersiaplah untuk
dikhianati. Kita akan bahagia bila kita bisa
menerima diri apa adanya, mencintai dan
menghargai diri sendiri,mau mencintai orang lain,
dan mau menerima orang lain.
Percayalah kepada Allah, dan bersyukurlah
kepada-Nya, bahwa kita selalu diberikan yang
terbaik sesuai usaha kita, tak perlu berkeras hati.
Ia akan memberi kita di saat yang tepat apa yang
kita butuhkan, meskipun bukan hari ini, masih ada
esok hari. Berusaha dan bahagialah karena kita
dicintai begitu banyak orang.

Kamis, 22 Mei 2008

Boys Don’t Cry?

Kata mitos, anak cowok itu tabu “Menangis”. Bener begitu? Apa iya cowok kagak boleh menitikkan air mata? Khan, cowok juga manusia? Kalo getho Kamu kudu simak penjelasannya.
Jadi anak cowok nggak enteng juga. Ada “aturan” ribet yang mengekang anak cowok. Salah satunya soal Nangis. Lama dislogankan kalo anak cowok kagak boleh nangis kalo kagak percaya tanya dech ma nenek ato kakek kamu (hehe...), so...boys don’t cry. Pokoknya, malu-maluin deh kalo sampe ada anak cowok yang meneteskan air mata (kecuali kelilipan atau kecolok golok!...). Cowok selalu dituntut tegar, kuat, en tahan banting. Kalo gampang meneteskan air mata - apalagi sampai menjerit (mèwèk kata orang Bandung, mah!), bisa disebut banci. “Kayak cewek aja, lu!” Kata cowok-cowok yang lain.
Ini nggak cuma kata sesama cowok, tapi juga menurut mayoritas kaum cewek. Di mata cewek, cowok itu jangan cengeng. Biar cewek aja deh yang jadi makhluk penumpah air mata. Cowok justru harus jadi mahluk yang bisa menguatkan hati dan iman cewek, juga tempat cewek menumpahkan air matanya. Makanya, di banyak lagu-lagu cinta selalu ada kalimat “I will be your shoulder to cry on”. Itu maksudnya, bahu si cowok kudu jadi tempat cewek menangis, bukan sebaliknya.
Apakah cowok pantes nangis?
Wah, wah, wah... apa iya cowok-cowok kagak sah kalo nangis? Padahal kan cowok en cewek sama-sama dikasih Allah kelenjar air mata, masa’ nggak boleh nangis? Ihik…ihik
Sebenarnya sah-sah aja cowok menangis. Terus apa aja yang pantas ditangisi cowok? Lalu apa sih yang bisa bikin cowok menangis? Nah, ini beda-beda jawabannya. Misalnya ada cowok yang bisa jadi melankolis kalo diputus cewek. Belum tentu satu kejadian bisa mengundang cucuran air buat cowok yang lain. misalnya Patah hati...(hihi..)
Uuhhhmmm, nggak ada masalah cowok menangis. Cowok juga kan manusia (ampuuun Candil Seurieus!). kaum cowok pantes banget nangis karena menyesali dosa-dosa ato maling ayam trus ketahuan warga, misalkan. Setujuuu ga!
Nah, apapun alasannya, para cowok emang bisa en boleh menangis, kok. Jadi kagak usah malu untuk menangis, boyz, please deh!
Sehat & penting
Tapi, emang tetap harus diakui, tangisan cowok emang nggak sesering cewek. Kalau cewek mah, peka banget. Kesinggung dikit, matanya berkaca-kaca (tapi nggak sampai sebening kaca riben apalagi kaca nako), pa lagi kalo keinjek jempolnya – lebih peka lagi kalo keinjek pake mesin giling – bisa nangis tersendu2 selama 3 minggu penuh kali yagh (hihi...). Untuk cowok, kagak segampang itu. But, ini bukan berarti tangisan cewek itu tangis murahan lho!
Aturan konvensional emang memperlakukan cowok jadi mahluk yang keras. Menangis itu tanda kelemahan dan kagak maskulin ato jantan. Makanya, kaum cowok suka jaim – jaga imej –. Mereka bakal “tengsin” berat kalau sampai ketahuan nangis di muka umum, apalagi di muka hakim (he…he…). Mereka lebih milih nahan nangis meski hatinya remuk redam kayak kacang ijo dibikin bakpia pathok.
Hal inilah yang coba diluruskan oleh Profesor Bernard Capp, ahli sejarah dari University of Warwick. Kata dia, rugi banget kalo cowok nahan-nahan diri untuk menangis. Karena, menahan tangisan itu ternyata beresiko untuk kesehatan. Untungnya, lanjut Prof yang satu ini, mental para cowok udah berevolusi sehingga kini jadi gampang nangis. Salah satunya, adalah berkat jasa sepakbola. Kagak percaya? Liat aja, begitu kesebelasan AC Milan keok di tangan Liverpool di final Liga Champion, si gelandang asal Brazil, Kaka dan striker Sheva yang biasanya ‘garang’ di depan gawang lawan, justru sesenggukan bareng para supporter-nya.
Para psikolog juga bilang buat cowok menangis itu sama pentingnya kayak cewek. Psikolog klinis Ron Bracey mengatakan, menangis baik bagi tubuh kita. Menangis mengatur fungsi penting dengan melepaskan hormon stress. Nah, nangis itu sehat, bro!
Nangis Yang Baik
Meski menangis itu boleh, para cowok harus tahu apa saja yang pantas ditangisi dan gimana caranya. Ingat, hukum asal perbuatan itu terikat hukum syara’. Karena nangis itu perbuatan, maka harus ikut aturan Islam. Gimana nangis yang halal dan berpahala, dan yang haram ya jangan ditangisi. Misalnya, nggak pantas seorang muslim menangisi Ariel Sharon seandainya dia ko’it (hihi...). Apalagi sampai mendoakan agar dia diterima iman dan amalnya. Lha wong dia memusuhi Islam dan membunuhi kaum muslimin, ya mana bisa diterima baik-baik sama Allah. Pastinya dia bakal nyungsep ke neraka jahanam.
Ada beberapa tangisan yang dibolehkan dan dianjurkan agama, yakni:
• Saat mendapat musibah, seperti kematian orang yang dikasihi. Imam Muslim meriwayatkan bahwa suatu ketika salah seorang putra Rasulullah saw. sakit keras. Kemudian beliau memangkunya sedangkan nafas anak itu telah tersengal-sengal. Maka jatuhlah air mata Rasulullah saw. membasahi pipi. Sahabat beliau, Sa’ad bin Ubadah ra. yang menyaksikan hal itu bertanya, “Apakah air mata ini (mengapakah engkau menangis sedang engkau melarang meratap)?” Rasulullah saw. menjawab, “Air mata itu bukti rahmat yang telah diletakkan Allah dalam hati hambaNya. Sesungguhnya Allah akan mengasihi hamba-hambaNya yang berkasih sayang pada sesamanya.”
• Nangis karena inget dosa, takut pada Allah. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut pada Allah hingga air susu masuk lagi ke dalam payudara.”(HR. Tirmidzi). Boyz, jangan pernah lupa ama dosa-dosa, apalagi sampe nyombongin diri. Amit-amit. Ada baiknya kita renungkan kesalahan yang udah kita lakuin; ngelawan ortu, bohong, lupa shalat 5 waktu, ngelirikin cewek, ngegodain cewek, dsb. Rasulullah saw. juga pernah ngingetin kita supaya nggak ngebanggain amal baik kita karena belum tentu diterima Allah, dan jangan ngelupain dosa-dosa yang udah kita kerjain karena Allah pasti mencatatnya. So, menangislah jika kita pernah berbuat kesalahan, itu tanda hambaNya yang beriman.
• Nangis waktu membaca atau mendengar al-Quran. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa saat Rasulullah saw. mendengar sahabat Nabi saw. yang bernama Abdullah bin Mas’ud membaca Al Qur’an, beliau mencucurkan air mata. Begitu pula Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang sering menangis saat membaca al-QuranMenangis saat membaca al-Quran adalah tanda kekhusyu’an. Hal inilah yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi Muhammad saw. Kalau mereka membaca ayat-ayat tentang neraka, mereka menghentikan sejenak membacanya lalu berdoa sambil menangis, berharap mereka bukan termasuk penghuninya. Lalu saat membaca ayat-ayat yang berkisah tentang surga, mereka juga menangis dan berdoa, berharap agar termasuk ke dalam golongan penghuninya.Selain itu, para ulama juga menganjurkan kita untuk menangis saat membaca al-Quran. Mereka juga bilang, kalau kita tidak bisa menangis saat membaca ayat-ayat Allah, maka menangislah karena hal itu memang pantas ditangisi. Khawatir hati kita sudah menjadi batu, tidak tergetar dengan ayat-ayatNya. “Orang-orang yang jika disebut nama Allah bergetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah keimanannya.” (QS al-Anfal [8]: 2).
• Nangis waktu shalat. Ini bukan karena kaki kita keinjek makmum sebelah kita. Tapi menangis karena perasaan takut dan cinta kepada Allah. Bro, Rasulullah saw. dan para sahabatnya adalah orang-orang yang terbiasa menangis ketika shalat. Pernahkah kita demikian? Semoga bermanfaat.

Rabu, 21 Mei 2008

Diam...

dalam diam ada tangis yg tertahan
dalam diam ada hati yg terluka
dalam diam ada kata yg tak'an terucap
dalam diam ada amarah yg t'pendam
dalam diam ada rindu yg tak terungkap
dalam diam ada cinta yg membiru
dan dalam diam ku bukan berarti ku tak tahu apa2
aku tahu...
aku sangat tahu dg apa yg harus aku lakukan...
tapi...
ku hanya ingin diam dan membisu...
ingin ku lari dari kenyataan
ingin ku pergi dari kesepian
ingin ku hilang dari kegelisahan
tapi yg terjadi adalah sebaliknya
semakin ku lari, semakin dalam yg harus aku rasakan
uuhhmmm,...
aku bukan pengecut atau pecundang
aku harus kuat
aku harus tetap disini
aku harus hadapi semua
mungkin...
semua ini hanya karena aku ingin bahagia
yg tanpa sengaja hanya bisa dilupakan
seluruh hari-hari ku...
ketenangan jiwa ini adalah ketegaran dalam tiap langkah ku
kadang ku merasa...
diri ini bagaikan debu yang ditiup oleh angin
tanpa bisa melawan
diri ku bagaikan sebatang kayu
yg apabila dibuang dalam sungai
diri ku akan hanyut terbawa arus
dan akhirnya hilang...
kenapa malam tak pernah tersenyum
menghantarkan mimpi indah ini
nyaman rasanya tertidur dibawah bintang2
dan mata ku terpejam, tp hatipun menangis
menantikan diri ini didalam kesunyian malam
sampai kelopak mata ku menghitam
ku ingin kehadiran seseorang disaat hati ku terluka
yg merelakan bahunya untuk ku
yg menghibur ku dg sebuah nyanyian
yg mendengarkan keluh ku dg sebuah senyuman
setelah ku hanyut dalam dingin'y malam
baru ku sadari apa ada yg salah dalam diri ini?
seakan lidah ini kelu tak ingin bicara
sedikitpun tak mampu tuk berkata
jangan biarkan ku spt ini
merintih tak berdaya dalam kata
setiap malam dipenuhi penyesalan dan kecewa
uuhhm...
biarlah semua terbang dg bebas keujung dunia
ku ingin dunia ku slalu terbebas dari pertanyaan
pahitnya kenyataan terus menghujam
ketika hati ku tak mampu menipu
saat ini ku ingin...
membayangkan spt apa dunia ini
membayangkan spt apa hidup ini
apa arti aku disini
dan utk apa aku disini...
ditempat yg sunyi ini ku ingin seseorang genggam jemari tangan ku
menarik ku...
menuntun ku...
menemani ku...
hingga menatap mentari senja yang tenggelam.....
dalam diam ku berharap
kan datang suatu keajaiban
yg membuat ku merasakan bahwa bulan&bintang
bisa mencatat sebuah kerinduan
saat mulut ku hrz terbungkam
saat kaki ku hrz telanjang
dan saat kaki ku hrz dibelenggu
ku ingin ada keajaiban
dalam diam dan kebisuan
ku ingin kau tahu
aku sepi tanpa mu
ku ingin kau tahu
ku tak ingin malu
pada bulan dan bintang itu
karena ku telah berkata
bahwa diam adalah cinta sejati ku
ku ingin kau tahu
dalam diam ini ada nama mu
dalam diam ku selalu mengingat mu
dan dalam diam ku akan slalu setia...pada mu
cinta didunia ini bagaikan batu
yg apabila ditumbuhi akan cepat rapuh & memudar
kadang cinta tak slamanya memiliki
apa hati ini akan dapat tersentuh
sudahlah...ku hanya ingin diam...
@rDh3